— Indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Federal Reserve mencatat lonjakan tertinggi sejak akhir 2023, memperkuat sikap pengetatan kebijakan moneter yang belakangan diambil bank sentral AS.

Departemen Perdagangan melaporkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti — yang mengecualikan pangan dan energi — tumbuh 3,4% secara tahunan (YoY) setelah mengalami kenaikan 0,3% secara bulanan.

Angka Inflasi Inti Dan Umum

PCE inti 3,4% YoY merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023 dan sejalan dengan estimasi konsensus. Untuk PCE umum yang mencakup semua komponen, inflasi tahunan yang disesuaikan secara musiman naik ke 4,1%, level tertinggi sejak April 2023.

Secara bulanan, PCE umum mengalami akselerasi sebesar 0,4%, sedikit di bawah prediksi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,5%, sementara angka tahunannya tepat sesuai konsensus.

Dorongan Sektor Dan Reaksi Pasar

Sektor energi menjadi pendorong utama kenaikan harga, dengan barang dan jasa terkait energi melonjak hingga 4% dalam satu bulan. Biaya tempat tinggal naik 0,3%, dan sektor jasa keuangan serta asuransi meningkat tajam sebesar 1,2%.

Menanggapi rilis data, kontrak berjangka pasar saham AS masih bergerak di zona positif, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit menurun. Di pasar uang, pelaku investasi tetap mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2026 meski probabilitasnya sedikit berkurang.

Sketsa Kebijakan The Fed

Inflasi inti tetap menjadi tolok ukur utama bagi pejabat The Fed karena dianggap mencerminkan tren jangka panjang. Dalam beberapa pekan terakhir, retorika bank sentral di bawah kepemimpinan Kevin Warsh berubah lebih tegas, termasuk penghapusan rencana pemotongan suku bunga tahun ini dan sinyal peluang kenaikan di masa mendatang.

“Inflasi menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir akibat dampak perang di Amerika Serikat… maksud kami perang di Iran, dan situasi ini sangat memberatkan warga Amerika kelas menengah ke bawah,” ujar Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union Heather Long.
“Masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk bensin, layanan kesehatan, dan utilitas. Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, telah menyatakan komitmennya dengan jelas untuk meredam inflasi. Kuncinya adalah seberapa besar pelonggaran tekanan yang bisa terjadi hingga September nanti,” tambahnya.

Konsumsi, Pendapatan, Dan Kondisi Makro

Meski menghadapi inflasi tinggi, aktivitas belanja konsumen menunjukkan ketahanan. Pengeluaran konsumsi pribadi naik 0,7% pada periode yang sama, melampaui perkiraan analis sebesar 0,1 poin persentase dan tumbuh lebih cepat dibanding laju inflasi.

Pendapatan pribadi juga meningkat 0,7%, melampaui prediksi awal 0,4%. Tingkat tabungan pribadi tercatat naik menjadi 3%.

Data lain pada hari yang sama menunjukkan kondisi fundamental ekonomi AS relatif kuat. Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal pertama direvisi naik menjadi pertumbuhan tahunan 2,1%, dibanding estimasi sebelumnya 1,6%.

Di pasar tenaga kerja, klaim tunjangan pengangguran mingguan untuk pekan yang berakhir 20 Juni turun 12.000 menjadi 215.000 klaim, lebih baik dari proyeksi pasar 223.000 klaim.

Pendorong Lonjakan Inflasi

Laporan ekonomi menyebut dua faktor utama yang mendorong lonjakan inflasi. Pertama, eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Iran mengganggu pasokan minyak mentah dunia sehingga mendorong biaya energi dan menambah tekanan pada biaya logistik serta produksi.

Kedua, transisi kepemimpinan di The Fed di mana Ketua baru Kevin Warsh mengambil pendekatan yang lebih agresif untuk menegakkan stabilitas harga setelah bank sentral gagal mencapai target inflasi 2% selama lima tahun berturut-turut.

Di bawah arahan Warsh, fokus The Fed kini lebih menekankan stabilitas harga jangka panjang di atas pertumbuhan ekonomi jangka pendek, menandai pergeseran dari era suku bunga murah dan membuka kemungkinan pengetatan moneter lanjutan.