Skybee — Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Jumat, 26 Juni 2026, setelah ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis sore (25/6/2026).
Pada penutupan hari sebelumnya, rupiah menguat 9 poin ke level Rp 17.943 per dolar AS dari posisi Rp 17.952. Untuk perdagangan besok, mata uang domestik diperkirakan fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada rentang Rp 17.940–Rp 17.990.
Faktor Penguatan Rupiah
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan meredanya tekanan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu penopang penguatan rupiah.
Menurut Ibrahim, kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dengan Iran—yang dimulai pada 28 Februari 2026—memungkinkan lalu lintas melalui Selat Hormuz dimulai kembali. Hal itu, ujar dia, meredakan kekhawatiran pasokan yang sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Transportasi minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz sebesar 20% saat ini sudah kembali normal. Sehingga bersamaan dengan dibukanya Selat Hormuz harga minyak mentah bisa mengalami penurunan,”
Ibrahim menambahkan penurunan harga minyak turut memperkecil tekanan inflasi dari sektor energi.
Persepsi Pasar Terhadap Kebijakan The Fed
Meski demikian, Ibrahim mencatat penurunan harga minyak belum meredam ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter The Fed. Ia menyebut ada perbedaan pandangan di dewan bank sentral AS.
“Namun penurunan harga minyak belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve (Fed), karena bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil,”
Perkembangan harga minyak dan ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi variabel yang akan terus memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Ikuti Skybee
