Skybee — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter AS.
Pada perdagangan sore, rupiah ditutup melemah 55 poin ke level Rp 17.906 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tercatat melemah 60 poin di level Rp 17.851.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan sejumlah faktor eksternal menjadi pendorong pelemahan kurs. Salah satunya adalah fokus pasar terhadap hasil pembicaraan perdamaian AS-Iran di Doha, yang mendapat sorotan setelah serangan rudal akhir pekan lalu menguji gencatan senjata.
Selain itu, Ibrahim menyoroti adanya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Pernyataan tersebut merujuk pada sikap hawkish bank sentral pada pertemuan Juni, di mana beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga.
“Perhatian sekarang beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada hari Kamis. Para ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114.000 lapangan kerja sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%, data yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed,” ujar Ibrahim.
Dari sisi domestik, Ibrahim mengatakan rupiah juga tertekan oleh penantian pasar terhadap rilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei. Kondisi tersebut menggaung setelah pada bulan April tercatat defisit transaksi berjalan dan pelebaran anggaran.
“Surplus perdagangan yang menyusut, dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing,” tambah Ibrahim.
Ikuti Skybee
