Skybee — Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat turun 16 poin ke level Rp17.859 per dolar AS.
Sebelumnya pada Selasa siang, mata uang domestik sempat melemah 19 poin (0,11%) ke Rp17.862 per dolar AS. Kondisi ini menempatkan rupiah dalam rentang yang rawan fluktuasi menjelang pembukaan pasar berikutnya.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.850 – Rp17.900,” ujar Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan tertulis pada Selasa (23/6/2026).
Sentimen Global dan Dampaknya
Ibrahim menyebut bank sentral dan pelaku pasar masih merespons perkembangan di level internasional. Membaiknya sentimen global tercatat setelah terjadinya kemajuan dalam kesepakatan perdamaian dan perpanjangan kerangka kerja gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
“Pengecualian sanksi, yang juga mencakup layanan perbankan, asuransi, dan pengiriman terkait, telah meningkatkan ekspektasi bahwa ekspor Iran dapat meningkat dalam beberapa minggu mendatang, berpotensi meningkatkan pasokan global pada saat kekhawatiran atas gangguan melalui Selat Hormuz mereda,” kata Ibrahim.
Tekanan Dari Dalam Negeri
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti risiko pelemahan rupiah yang berhubungan dengan penantian pasar terhadap rilis evaluasi MSCI. Pasar sebelumnya tertekan setelah keluarnya hasil Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
Selain itu, Ibrahim mencatat rentetan permasalahan di sektor manufaktur turut menjadi perhatian pelaku pasar. “Pasar juga terus memantau tentang rentetan persoalan yang menimpa sejumlah perusahaan manufaktur mulai dari penghentian produksi, perumahan karyawan, keterlambatan pembayaran gaji hingga relokasi investasi ke negara lain dinilai menjadi sinyal melemahnya daya saing industri manufaktur nasional,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan sejumlah faktor domestik dan internasional yang menempatkan rupiah pada posisi rentan dalam jangka pendek, khususnya menjelang pengumuman dan rilis data yang dinantikan pelaku pasar.
Ikuti Skybee
