— Jakarta — Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan korporasi besar Amerika Serikat untuk mendorong investasi dan pengembangan manufaktur. Pembahasan menekankan peluang sektor industri, penguatan rantai pasok global, serta pengembangan ekosistem teknologi dan manufaktur modern.

Pertemuan yang melibatkan Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo bersama perwakilan KBRI Washington DC, US Chamber of Commerce, dan AmCham Indonesia menyorot peluang investasi yang dibuka oleh lonjakan ekonomi digital serta perbaikan regulasi usaha.

Peluang Investasi dan Insentif Regulasi

Pemerintah menampilkan data pertumbuhan ekonomi digital yang naik dari US$ 82 miliar pada 2023 menjadi US$ 99 miliar pada 2025. Indroyono mengatakan, “Indonesia memiliki talenta-talenta berbakat yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Mereka siap berkontribusi dalam mendukung investasi serta transfer pengetahuan.”

Untuk mempermudah investor, pemerintah mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Selain itu, Bappenas menyediakan Blue Book yang memuat daftar proyek prioritas bagi investor asing.

Poin Kerja Sama Perusahaan AS

Pertemuan dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan AS, termasuk Boeing, Nike, Hamilton Beach, ExxonMobil, dan Freeport-McMoRan. Beberapa poin utama kerja sama di berbagai sektor adalah sebagai berikut.

  • Penerbangan: Boeing memproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar penumpang pesawat keempat terbesar pada 2036 dengan kebutuhan sekitar 600 pesawat baru sekelas Boeing 737. Perusahaan membuka peluang bagi industri nasional untuk masuk ke rantai pasok global melalui kerja sama yang telah berjalan dengan PT Dirgantara Indonesia, serta bermitra dengan ITB dan Pertamina untuk pengembangan sustainable aviation fuel (SAF).
  • Manufaktur: Nike menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksinya dengan penyerapan tenaga kerja besar dan komitmen ekspor. Hamilton Beach sedang membangun pabrik peralatan elektronik rumah tangga di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah.
  • Energi dan Sumber Daya: ExxonMobil dan Freeport-McMoRan dipandang sebagai mitra strategis yang terus memperkokoh kerja sama ekonomi bilateral.

Catatan Investor dan Agenda Ke depan

Para pelaku usaha AS mengingatkan pentingnya kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan penyelesaian hambatan non-tarif agar Indonesia dapat bersaing dengan negara lain di kawasan.

John Goyer, Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee, menyatakan harapan agar US-Indonesia Investment Summit di Jakarta pada Oktober 2026 menghasilkan kontrak kerja sama yang konkret. Ia juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk berpartisipasi pada forum B-20 di Washington DC pada 9–11 November 2026, yang bertepatan dengan KTT G20.

Berdasarkan data yang dikemukakan dalam pertemuan, nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$ 45,7 miliar.

Perubahan Fokus Kemitraan

Hubungan ekonomi antara Indonesia dan AS, yang selama puluhan tahun kuat di sektor energi dan pertambangan, kini bergeser ke arah hilirisasi industri dan transformasi digital. Indonesia mengambil langkah lebih selektif dalam menarik investasi dengan penekanan pada regulasi lingkungan dan keberlanjutan.

Pemerintah memandang mekanisme seperti Investment Summit dan implementasi PP No. 28/2025 sebagai instrumen untuk meyakinkan investor bahwa iklim investasi di Indonesia lebih pasti, transparan, dan kompetitif.