— Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami tekanan jual signifikan di pasar, tetapi sejumlah analis tetap memberi rekomendasi positif karena tidak ada perubahan fundamental pada operasi perusahaan.

RHB Sekuritas mencatat aksi jual tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun ke kisaran 5.300-an sebelum kembali ke level 6.000-an, sementara kinerja operasional MDKA tetap berjalan sesuai rencana.

Produksi Emas dan Nikel

RHB menuliskan bahwa tambang Pani, dikelola oleh anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), mulai berproduksi pada pertengahan Februari 2026 dengan usia tambang berkisar 15–200 tahun.

Tahun ini target produksi bijih emas Pani sebesar 8 juta ton atau sekitar 115 ribu oz. Untuk tambang Tujuh Bukit, produksi emas ditargetkan 90 ribu oz sehingga total produksi MDKA diperkirakan mencapai 199 ribu oz pada 2026, naik 93% dari tahun sebelumnya.

Di sisi nikel, RHB mencatat target produksi NPI 85 ribu ton (naik 15%), nikel matte 46 ribu ton (tumbuh 130%), dan MHP 30 ribu ton. RHB juga menyebut adanya potensi kenaikan penjualan bijih limonit terkait peluang revisi RKAB.

Rekomendasi Dan Target Harga

RHB menilai penurunan harga saham MDKA telah melebihi perubahan fundamental perusahaan. Dalam risetnya, RHB mengungkapkan bahwa MDKA diperdagangkan dengan EV/EBITDA sekitar 7 kali, sedangkan rata-rata lima tahun adalah 16,5 kali.

“Padahal, operasional perseroan tidak berubah, seperti agenda penaikan produksi tambang emas Pani,”

Berdasarkan penilaian tersebut, RHB mempertahankan rekomendasi buy untuk MDKA dengan target harga Rp3.900, yang merefleksikan EV/EBITDA 2026 10 kali dan DCF 30%. Target harga itu menawarkan potensi keuntungan sekitar 42% dari level pasar saat riset dibuat.

RHB juga mengingatkan sejumlah risiko yang dapat menekan saham MDKA, antara lain penurunan harga komoditas, kegagalan meningkatkan produksi, kenaikan beban keuangan, kebijakan pemerintah yang tidak kondusif, serta koreksi tajam indeks acuan.