— Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian (Kementan), menyatakan kesiapan menghadapi puncak fenomena El Nino yang diproyeksi terjadi pada Agustus 2026. Langkah itu mencakup penyiapan stok hingga penguatan sistem pengelolaan air untuk meredam dampak kekeringan pada sektor pertanian.

Suwandi, Sekretaris Jenderal Kementan, menyebutkan Bulog telah menempatkan stok beras pada level tertinggi dalam sejarah, yakni 5,3 juta ton. Selain stok pangan, kementerian menyiapkan serangkaian tindakan teknis dan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk antisipasi luas.

Kementan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan mengintensifkan sistem peringatan dini (early warning system/EWS). Surat edaran kepada gubernur dan bupati berisi lima poin tindakan antisipatif, termasuk perbaikan saluran air dan pendataan embung serta waduk yang bisa dimanfaatkan saat kekeringan.

“Kementan terus koordinasi semua Gubernur, Bupati bergerak di lapangan melakukan langkah-langkah antisipasi. Isi surat ada 5 item yaitu melakukan langkah-langkah early warning system. Kemudian saluran-saluran air ini kesempatan di saat kering, ini mestinya dilakukan perbaikan, rehab-rehab saluran-saluran air… Kemudian menjaga embung-embung, waduk-waduk didata mana yang bisa dipakai,” kata Suwandi.

Penguatan Pengelolaan Air

Pemerintah mendorong optimalisasi pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi dan pemanfaatan embung serta sumur dangkal. Upaya teknis lain meliputi pompanisasi, perpipaan, dan pengoperasian irigasi perpompaan agar air tersedia bagi lahan pertanian.

Suwandi menjelaskan distribusi pompa ditujukan untuk meningkatkan cakupan layanan. “Sekarang sedang didistribusikan pompa-pompa yang bisa menjangkau tambahnya saja 1 juta hektar harus dipasang di bulan Juni-Juli sehingga di saat dibutuhkan sudah siap. Belum pompa-pompa yang tahun lalu itu meng-cover 2 juta hektar, sekarang juga sama. Plus sekarang tambah pompa, irigasi perpompaan, saluran-saluran 2 juta hektar juga coverage-nya nanti supaya segera berfungsi,” ujarnya.

Penyesuaian Pola Tanam dan Varietas

Selain infrastruktur air, Kementan mempercepat musim tanam di wilayah berpotensi dengan penggunaan varietas yang lebih tahan kering. Penetapan pola tanam disesuaikan kondisi iklim dan ketersediaan air di tiap daerah.

Petani didorong mengadopsi pola tanam adaptif, termasuk mengganti komoditas yang memerlukan banyak air dengan tanaman yang lebih toleran terhadap kekeringan.

Persiapan Mitigasi

Untuk mitigasi risiko produksi, Kementan menyiapkan skema asuransi pertanian, bantuan benih, dan pengelolaan risiko produksi. Penjadwalan tanam dilakukan bertahap untuk menekan potensi kehilangan hasil.

“Ada beberapa daerah juga terima kasih Asuransi Usaha Tani. Jadi kalau kena gagal panen atau puso istilahnya, itu ada asuransinya 6 juta per hektar itu bagi lahan-lahan yang diasuransikan,” kata Suwandi.

Kementan juga mengajukan pelaksanaan modifikasi cuaca kepada BMKG untuk mendukung ketersediaan air di daerah rawan. Langkah ini dilakukan berbarengan dengan koordinasi intensif bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.

Menurut Kementan, langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi diprioritaskan untuk periode Juli, Agustus, dan September, dengan harapan mulai ada tanda-tanda hujan pada Oktober nanti.