Skybee — Mineral kritis kini bertransformasi dari sekadar komoditas tambang menjadi aset strategis yang menentukan daya saing industri dan kemandirian energi suatu negara. Peran itu semakin menonjol seiring percepatan transisi ke energi rendah karbon dan meningkatnya persaingan geopolitik global.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menegaskan kebutuhan terhadap mineral kritis terus naik sejalan dengan pergeseran teknologi dan permintaan pasar. Menurutnya, pengelolaan sumber daya ini harus menjadi bagian dari strategi pembangunan industri nasional.
Mineral Kritis dan Fungsinya
Mineral kritis didefinisikan sebagai komoditas tambang yang penting bagi industri strategis dan ketahanan energi, tetapi rentan terhadap gangguan pasokan dan sulit tergantikan. Di Indonesia, komoditas yang masuk kategori ini antara lain nikel, kobalt, tembaga, timah, bauksit, mangan, litium, silika, dan logam tanah jarang.
Komoditas tersebut dibutuhkan untuk pengembangan baterai kendaraan listrik, panel surya, jaringan listrik, industri elektronik, serta teknologi pendukung lain dalam transisi energi bersih.
Peluang dan Tantangan Pengelolaan
Esther menyatakan Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan lonjakan permintaan mineral kritis karena kekayaan sumber daya alamnya. Namun, ia menekankan potensi itu harus dikelola agar tidak berhenti pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
“Mineral kritis tidak hanya dipandang sebagai suatu komoditas saja, tetapi mineral kritis ini sudah menjadi aset yang menentukan apakah daya saing industri kita itu mampu bersaing di ekonomi global, apakah mineral kritis ini bisa mendorong kemandirian energi dan seterusnya,”
Menurut Esther, teknologi rendah karbon umumnya membutuhkan pasokan mineral yang jauh lebih besar ketimbang teknologi berbasis bahan bakar fosil. Hal ini mendorong peningkatan kebutuhan jangka panjang terhadap mineral kritis.
“Produk-produk teknologi rendah karbon itu sebagai infrastruktur untuk transisi menuju energi bersih. Namun, kita juga melihat bahwa produk-produk ini sebenarnya membutuhkan enam kali lipat kebutuhan mineral kritis,” kata Esther.
Hati-hati Agar Tak Gantikan Ketergantungan
Meski mendorong transisi energi, Esther mengingatkan proses ini perlu dilakukan hati-hati agar tidak menciptakan ketergantungan baru pada jenis mineral tertentu atau pada pasokan dari negara tertentu.
“Oleh karena itu kami melihat jangan sampai dukungan untuk menuju transisi menuju energi bersih ini menciptakan ketergantungan baru. Tidak hanya ketergantungan pada satu mineral kritis dari suatu negara, tetapi kita juga harus mitigasi risikonya seperti apa ke depannya,”
Ia menyarankan pemerintah menyiapkan kebijakan jangka panjang yang memperkuat ketahanan rantai pasok mineral kritis, meningkatkan koordinasi antar-pemangku kepentingan, serta mengantisipasi berbagai risiko masa depan.
Ikuti Skybee
