— Jakarta — Analis Goldman Sachs memperkirakan harga emas dunia akan kembali memasuki tren kenaikan meski logam mulia itu mengalami penurunan tajam selama empat bulan terakhir.

Kepala riset komoditas global Goldman Sachs, Samantha Dart, menilai permintaan dari bank sentral menjadi faktor kunci yang bisa mendorong harga emas mendekati ambang US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026.

Bank Sentral Jadi Motor Permintaan

Dart menyatakan bahwa dorongan struktural dan siklikal terus membuka potensi kenaikan harga.

“Emas belum selesai. Kami terus melihat potensi kenaikan lebih lanjut, didorong oleh faktor struktural dan akhirnya siklikal,”

Ia merujuk pada minat tinggi bank sentral global terhadap logam mulia sebagai pendorong utama momentum harga di paruh kedua tahun ini. Menurut Dart, diversifikasi aset oleh bank sentral negara berkembang—termasuk respons setelah pembekuan cadangan Rusia pada 2022—mendukung proyeksi harga sebesar US$4.900 per ons pada akhir 2026.

Proyeksi Pembelian dan Risiko

Goldman Sachs memperkirakan bank sentral global akan rata-rata membeli sekitar 60 ton emas per bulan hingga akhir 2026, didukung oleh permintaan diversifikasi di tengah ketidakpastian geopolitik.

Selain proyeksi US$5.000 per troy ounce, bank investasi tersebut juga melihat peluang harga emas menyentuh US$5.400 per troy ounce pada akhir 2026. Namun, mereka mengingatkan adanya tekanan jangka pendek apabila investor melakukan penjualan aset likuid untuk mencari dana tunai saat terjadi tekanan pasar.

Dalam catatan riset timnya, Dart menambahkan bahwa risiko terhadap perkiraan harga emas secara keseluruhan tetap condong ke atas, dengan perhatian pada faktor fiskal negara-negara Barat yang dapat mempercepat diversifikasi investor swasta ke emas.