Skybee — Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami penurunan tajam pada sesi I perdagangan Selasa, 23 Juni 2026, menutup turun 5,29% menjadi Rp 805. Pergerakan ini menyusul tekanan jual yang dominan pada saham emiten Grup Sinar Mas tersebut.
Pada jeda siang, tercatat 1,25 miliar saham DSSA diperdagangkan dengan frekuensi 89.882 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 1,07 triliun. Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, saham ini membukukan net sell sebesar Rp 267,9 miliar—tertinggi di antara saham-saham lain yang tercatat net sell pada sesi tersebut.
Aliran Jual Asing Pekan Lalu
Pekan 15–19 Juni 2026, investor asing tercatat menjual bersih saham DSSA sebesar Rp 838,6 miliar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Angka itu menempatkan DSSA sebagai saham yang paling banyak dijual asing selama periode tersebut.
Penjualan asing pada DSSA diikuti oleh saham lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan net sell Rp 630,2 miliar dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 553,3 miliar. Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp 904 miliar di seluruh pasar BEI dalam pekan terakhir, melanjutkan aksi jual pekan sebelumnya sebesar Rp 5,98 triliun.
Prospek & Target Harga Saham
Meski sempat dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard, sejumlah broker menilai DSSA masih memiliki prospek yang menjanjikan. Sucor Sekuritas menyebut DSSA bertindak sebagai konsolidator bisnis telekomunikasi dan teknologi di Grup Sinar Mas, serta tengah mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).
“Rencana DSSA mengambil 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) di harga Rp 523 per saham menggambarkan arah kebijakan untuk masuk ke rantai nilai sektor infrastruktur telekomunikasi,”
Sucor juga mencatat pembentukan perusahaan patungan DSSA dengan First Gen untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik geotermal 460 megawatt (MW) yang menargetkan operasi komersial pada 2020. Mereka menaksir net present value proyek tersebut sebesar US$ 895 juta dengan IRR 11%.
Dalam skenario valuasi yang disampaikan Sucor, ekspansi ke bisnis telekomunikasi, teknologi, dan geotermal dapat meningkatkan nilai pasar yang dapat digarap DSSA dari US$ 33 miliar menjadi US$ 76 miliar. Analis ini memperkirakan CAGR pendapatan 11% pada 2025–2030 menjadi US$ 4,7 miliar, dan pertumbuhan laba bersih 27% menjadi US$ 749 juta atau setara Rp 13,3 triliun.
Berdasarkan asumsi tersebut, Sucor mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DSSA dengan target harga Rp 990.
Ikuti Skybee
