Skybee — Bank of America (BofA) merevisi perkiraannya terhadap harga emas setelah tren reli yang kuat terhenti. Saat ini harga logam mulia berada di sekitar US$ 4.181 per troy ounce pada Senin (22/6/2026).
Beberapa bulan lalu analis bank tersebut sempat memproyeksikan harga emas berpeluang mencapai US$ 6.000 per troy ounce, namun prospek itu dianggap tidak realistis dalam jangka pendek oleh tim analis yang dipimpin Michael Widmer.
“(Harga emas) mencapai US$ 6.000/ons tampaknya tidak mungkin untuk saat ini. Tetapi gabungan antara kondisi makro AS yang sedang berlangsung berupa defisit tinggi, kurangnya konsolidasi fiskal, dan kebutuhan pendanaan menjadi pendukung di balik prediksi bullish harga emas kami sebelumnya,” ujar para analis BofA.
Mereka menambahkan, “Hal ini menunjukkan bahwa masih ada potensi bagi emas untuk kembali reli dalam jangka panjang.”
Hambatan Dari Kebijakan Moneter
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS menjadi hambatan terbesar bagi kelanjutan penguatan emas dalam jangka pendek. Pada awal tahun, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga, tetapi perkembangan geopolitik — termasuk perang di Iran yang memicu krisis energi — mendorong tekanan inflasi meningkat.
Akibatnya, pasar kini memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Menurut BofA, peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga hingga Desember 2026 berkorelasi erat dengan penurunan harga emas.
“Atau, dengan kata lain, peralihan dari ‘pemotongan inflasi’ ke kebijakan moneter yang lebih ketat mengurangi potensi kenaikan harga emas sekitar 50%, dengan asumsi faktor lain tetap sama,” kata Widmer.
Inflasi Dan Dampak Geopolitik
BofA mencatat bahwa bahkan jika tercapai kesepakatan perdamaian AS-Iran yang langgeng, tekanan inflasi belum tentu mereda. Dalam kondisi fragmentasi geopolitik yang tinggi, tekanan pada rantai pasokan dan kenaikan harga produsen kemungkinan terus berlanjut.
Para analis menilai inflasi jasa konsisten di atas target sebelumnya, sementara inflasi barang yang sempat negatif membantu mendekatkan inflasi ke target The Fed. Namun, inflasi barang inti yang melonjak setelah Covid dan langkah kebijakan tarif impor dinilai memberi tekanan tambahan.
Faktor Pendukung Harga Emas Tetap Tinggi
Meski menurunkan prospek jangka pendek, BofA melihat sejumlah faktor yang tetap mendukung harga emas berada pada level tinggi. Salah satunya adalah penurunan moderat dalam kepemilikan dolar AS di pasar global.
Cadangan dolar secara global diperkirakan menyusut dalam lima tahun ke depan, dan sampai latar belakang itu berubah, “kami percaya masih ada pendukung yang tersisa untuk mendorong harga emas lebih tinggi lagi, terlepas dari hambatan jangka pendek,” tutup para analis.
Ikuti Skybee
