Skybee — Peredaan konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang perbaikan kondisi eksternal yang diperkirakan berdampak positif pada perekonomian Indonesia. Penurunan harga minyak dunia dan membaiknya sentimen global disebut-sebut berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan pada 2026.
Bank Dunia, dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, mencatat bahwa dalam skenario awal pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi 5,0% pada 2026 dari realisasi 5,11% pada 2025. Proyeksi itu dibangun atas asumsi harga minyak Brent rata-rata berada di level US$ 94 per barel dan kondisi moneter global yang relatif ketat.
Penurunan Harga Minyak Dan Dampaknya
Lembaga internasional itu menilai jika tekanan eksternal mereda—termasuk lewat penurunan harga minyak—maka inflasi bisa menurun, beban subsidi energi berkurang, neraca perdagangan membaik, dan sentimen investor menguat. “Kondisi moneter global yang lebih menguntungkan juga dapat menurunkan biaya pinjaman dan meredam tekanan nilai tukar. Dalam skenario ini, pertumbuhan PDB berpotensi meningkat sebesar 0,2–0,4 poin persentase pada tahun 2026,” tulis Bank Dunia.
Dengan tambahan efek tersebut, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia dapat mencapai kisaran 5,2%–5,4% pada 2026, sejalan dengan target APBN 2026 yang menetapkan angka 5,4%.
Perkembangan Geopolitik dan Harga Energi
Kesepakatan yang diumumkan antara AS dan Iran untuk mengakhiri operasi militer ikut memengaruhi pasar energi global. Salah satu poin kesepakatan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang direspons pasar dengan penurunan harga minyak mentah Brent menjadi sekitar US$ 81 per barel pada 16 Juni 2026, turun dari level tertinggi sekitar US$ 114 per barel beberapa pekan sebelumnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menilai potensi penurunan harga energi global dapat mengurangi kebutuhan subsidi energi pemerintah. Ia menyatakan dampak kenaikan harga BBM subsidi sebelumnya diperkirakan hanya berdampak minimal terhadap inflasi.
Sementara itu, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,5%—kenaikan 75 basis poin sejak Mei 2026—sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar dan potensi lonjakan inflasi.
Ruang Fiskal dan Reformasi Struktural
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan rata-rata harga minyak dunia dapat turun ke level US$ 83 per barel pada tahun ini. Menkeu Purbaya mengatakan penurunan harga energi bisa memperlonggar ruang fiskal dan membuka peluang pembiayaan program prioritas.
Bank Dunia juga menekankan bahwa prospek pertumbuhan yang lebih tinggi akan bergantung pada implementasi reformasi struktural yang efektif. Faktor yang disebut dapat memperkuat pertumbuhan meliputi percepatan implementasi perjanjian perdagangan, deregulasi untuk mengurangi hambatan usaha, peningkatan koordinasi logistik, dan reformasi fiskal yang kredibel.
Selain itu, peningkatan penerimaan dari sektor komoditas berpotensi menambah ruang fiskal, tetapi Bank Dunia mengingatkan manfaat jangka panjang akan lebih optimal jika dana tersebut digunakan untuk memperkuat cadangan fiskal dan membiayai program-program dengan dampak ekonomi tinggi.
Dalam asumsi awal laporan, perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh 5,2% pada 2027 dan 2028, dengan catatan sentimen eksternal membaik dan reformasi domestik mendorong investasi. Sektor manufaktur berbasis komoditas, agribisnis, konstruksi, jasa, dan digital diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan, tergantung pada laju implementasi reformasi dan kemampuan menarik investasi swasta.
Ikuti Skybee
