— Kalangan analis memperkirakan harga emas dunia akan memasuki fase fluktuatif pada pekan mendatang. Pergerakan logam mulia disebut bakal dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, termasuk isu geopolitik, kondisi politik Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kombinasi faktor tersebut berpotensi mendorong koreksi maupun penguatan harga emas dalam waktu dekat.

Perkiraan Level Harga

Ibrahim merinci beberapa level teknis yang menjadi acuan. Untuk skenario koreksi, support pertama diperkirakan berada di US$ 3.959 per troy ounce dan sekitar Rp 2.640.000 per gram.

“Apabila melemah kembali, support kedua harga emas di US$ 3.786 per troy ounce kemudian logam mulia di Rp 2.530.000 per gram,” kata Ibrahim dalam keterangan pada Minggu (28/6/2026).

Sementara untuk potensi penguatan, resistance pertama diperkirakan di US$ 4.175 per troy ounce dan Rp 2.680.000 per gram. Jika dorongan naik berlanjut, resistance kedua disebut berada di US$ 4.344 per troy ounce dan Rp 2.750.000 per gram.

Sentimen Penggerak Pasar

Ibrahim menyebutkan beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan harga. Salah satunya adalah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah insiden penembakan terhadap sebuah kapal tanker yang tidak mengikuti arahan, meski Selat Hormuz disebut tetap dibuka.

Ia menilai kondisi itu dapat menahan lonjakan harga minyak agar tidak terlalu tinggi, namun tetap memberi tekanan pada pasar emas.

Ketegangan di Eropa Timur juga menjadi faktor, di mana serangan Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, terus berlangsung dan kedua pihak diperkirakan akan berunding mengenai gencatan senjata.

Selain itu, dinamika politik di Amerika Serikat ikut menentukan arah harga emas. Ibrahim menyebut beberapa pengamat memperkirakan Partai Republik akan menguasai parlemen, yang menurutnya dapat menguatkan kebijakan era pemerintahan sebelumnya.

Sentimen perang dagang kembali muncul meski ada putusan mahkamah konstitusi AS yang menyatakan beberapa tarif impor era pemerintahan sebelumnya ilegal. Kondisi ini bersama prospek kebijakan bank sentral AS turut membentuk ekspektasi pasar.

“Kemudian kebijakan bank sentral Amerika Serikat setelah rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus mengindikasikan bank sentral akan mempertahankan suku bunga,”

Demikian paparan Ibrahim mengenai faktor-faktor yang menurutnya akan memengaruhi harga emas dalam pekan mendatang.