Skybee — Simpan Asset Management menilai tekanan pasar saat ini berakar pada dua faktor utama: kebijakan fiskal dan stabilitas nilai tukar. Perusahaan menekankan bahwa kondisi tersebut adalah sinyal yang harus dibaca dengan cermat oleh investor, bukan alasan untuk panik.
Analisis Simpan mencatat rentang 18 bulan sejak pelantikan Presiden Prabowo Subianto sebagai periode yang cukup untuk mengukur arah kebijakan pemerintah. Dalam periode itu, pasar modal Indonesia menghadapi tekanan signifikan.
Indikator Pasar Yang Tertekan
Sejak Oktober 2024, rupiah melemah 15,6% terhadap dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh valuasi terendah sejak era pandemi Covid-19, sementara kepemilikan asing pada obligasi pemerintah turun dari sekitar 23% menjadi 13%.
Co-Founder Simpan Asset Management, Nicholas Hilman, mengungkapkan bahwa dari sisi fiskal, pemerintah hanya merealisasikan sekitar 91% dari target penerimaan 2025 sebesar Rp3.000 triliun. Di sisi belanja, defisit anggaran terhadap PDB mendekati ambang -3% yang sebelumnya hanya terlampaui saat pandemi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami kenaikan anggaran dari Rp70 triliun pada 2025 menjadi Rp268 triliun pada 2026, setara dengan gabungan anggaran Kementerian Pertahanan dan Polri. Sementara itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga 75 basis poin dalam dua bulan, bergeser dari orientasi propertumbuhan ke prostabilitas, dan cadangan devisa turun dari US$156 miliar menjadi US$145 miliar untuk intervensi nilai tukar.
Fondasi Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Meski tekanan dirasakan pada nilai tukar dan aliran modal, Nicholas menegaskan bahwa fondasi ekonomi tetap terjaga. Inflasi masih terkendali dan pertumbuhan PDB diperkirakan stabil di sekitar 5%.
“Yang perlu diperhatikan investor adalah bahwa tekanan ini terkonsentrasi di sisi currency dan aliran modal, bukan pada fondasi ekonomi itu sendiri. Inflasi tetap terjaga dan pertumbuhan PDB masih stabil di sekitar 5%.”
Menurut Simpan, Skor Makro yang mengombinasikan pertumbuhan GDP, inflasi, kebijakan pemerintah, dan stabilitas eksternal masih berada di zona relatif konstruktif. Pasar dinilai bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan, bukan runtuhnya fundamental ekonomi.
Nicholas mengatakan penjualan asing di IHSG lebih dipicu oleh risiko nilai tukar, ketidakpastian tata kelola, dan penghapusan dari indeks MSCI/FTSE, bukan oleh penurunan kinerja emiten. Saat ini valuasi IHSG berada di 14,5x P/E, level yang secara historis menjadi awal pemulihan. Skor Opportunity Simpan juga dikatakan berada di level favorable atau menarik.
Strategi Produk Untuk Menghadapi Dislokasi
Simpan menilai strategi pasif kurang optimal di kondisi ini. Untuk menavigasi lingkungan pasar, perusahaan mengembangkan dua produk komplementer: Actively Managed Portfolio (AMP) dan Simpan Dollar Bond Fund (DBF).
AMP adalah layanan portofolio reksa dana yang dikelola aktif, meliputi ekuitas, obligasi, dan pasar uang, dengan rebalancing bulanan berdasarkan model kuantitatif dan penilaian profesional. Sejak diluncurkan Januari 2026, AMP diklaim berhasil membatasi kerugian saat IHSG anjlok hingga -34,5%.
Portofolio AMP dengan risiko tertinggi (R5) hanya mencatat penurunan -12%, memberi keunggulan proteksi modal sebesar 22,5 poin persentase dibandingkan indeks. Pada Juni, tim Simpan menambah posisi ekuitas secara selektif setelah valuasi terdepresi menciptakan peluang akumulasi.
DBF dirancang untuk merespon risiko pelemahan rupiah jangka panjang. Simpan mencatat bahwa IDR melemah rata-rata 5% per tahun selama 15 tahun terakhir, sementara inflasi domestik berada di sekitar 3%. DBF menawarkan eksposur pada obligasi pemerintah dan korporasi berdenominasi dolar AS dengan target imbal hasil bersih sekitar 4,55% per tahun dalam dolar AS, sebagai upaya lindung nilai terhadap depresiasi rupiah.
Nicholas menegaskan kedua produk tersebut bukan alternatif saling menutup, melainkan dirancang berkolaborasi untuk menyusun portofolio yang seimbang antara pertumbuhan berbasis rupiah dan proteksi berbasis dolar AS.
“Simpan tidak melihat kondisi saat ini sebagai krisis. Ini adalah dislokasi yang menciptakan peluang bagi investor yang memiliki strategi dan kesabaran yang tepat.”
Dia menambahkan bahwa investor harus menghindari dua respons ekstrem: panik keluar dari pasar pada titik terendah atau mengabaikan risiko nyata. Pendekatan Simpan, menurutnya, berangkat dari data dan disiplin, bukan narasi atau spekulasi.
Ikuti Skybee
