— PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih bank only sebesar Rp 4,86 triliun pada Mei 2026, turun 1,73% dibandingkan bulan sebelumnya. Akumulasi lima bulan pertama tahun ini mencapai Rp 25,68 triliun, naik tipis 2,07% secara year on year (yoy).

Perusahaan mengungkap hampir seluruh indikator keuangan dan profitabilitas masih berada dalam rentang target manajemen untuk tahun ini. Namun, penyaluran kredit yang melambat menjadi pengecualian dan berdampak pada margin bunga.

Kredit BBCA tercatat tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun hingga akhir Mei 2026. Angka ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional yang tercatat 9,98% pada April 2026 menurut data BI.

Pencapaian pertumbuhan kredit tersebut juga jauh dari target manajemen yang mematok kenaikan 8–10% untuk tahun ini. Perlambatan penyaluran ikut menekan pendapatan bunga bersih.

Net interest income (NII) BBCA pada 5M26 turun 0,50% yoy menjadi Rp 32,95 triliun. Pendapatan bunga tercatat Rp 38,40 triliun (naik 0,30% yoy), sementara beban bunga meningkat 5,43% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.

Penurunan NII tercermin pula pada net interest margin (NIM) yang stagnan di 5,26% pada periode 5M26, sedikit di bawah target manajemen sebesar 5,4–5,6% untuk FY26.

Kredit Kendor, Tapi Getol Himpun Dana

Di tengah perlambatan kredit, BCA terus agresif menghimpun dana masyarakat. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,80% yoy menjadi Rp 1.256,84 triliun sampai akhir Mei 2026.

Hampir semua instrumen DPK meningkat kecuali deposito. Giro mencapai Rp 444,32 triliun (naik 16,78% yoy), tabungan Rp 625,37 triliun (naik 7,81% yoy), sedangkan deposito turun 3,85% yoy menjadi Rp 187,13 triliun.

Struktur dana tersebut mendorong rasio CASA menguat ke 85,11%. Rasio likuiditas lain, loan to deposit ratio (LDR), tercatat 77,11%, terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, indikator profitabilitas lain tetap dalam kisaran yang diharapkan manajemen. Return on assets (ROA) tercatat 3,93% pada 5M26, di atas target 3,5–3,7%, sedangkan return on equity (ROE) berada di 23,23%, masih sesuai panduan 21,5–23,5%.

Salah satu penopang laba BBCA pada 5M26 adalah pendapatan provisi dan penurunan biaya provisi. Pendapatan komisi/fee mencapai Rp 8,44 triliun (naik 9,20% yoy), sedangkan biaya provisi tercatat turun 13,64% yoy menjadi Rp 1,21 triliun.

Penurunan biaya provisi menjaga rasio cost of credit (CoC) tetap rendah di 0,30% pada 5M26, lebih rendah dari asumsi perusahaan 0,4–0,5%. Tren ini melanjutkan pergeseran tekanan profitabilitas dari lonjakan biaya provisi tahun lalu ke tekanan penyusutan margin bunga tahun ini.

Sebagai perbandingan, sepanjang tahun lalu biaya provisi BBCA bank only naik 131,81% meskipun CoC tetap rendah di 0,32%. Pada periode tersebut NIM berada di sekitar 5,65% dengan penyaluran kredit tumbuh 7,49% yoy.

Pada perdagangan Senin, saham BBCA menguat Rp 350 atau 5,9% ke posisi Rp 6.275, dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,01 triliun dari 4,8 juta lot. Meskipun demikian, pergerakan saham tersebut belum menutupi penurunan 22,29% secara year to date dan 30,47% dalam satu tahun terakhir.