— PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diperkirakan melanjutkan pemulihan profitabilitas pada 2026 dengan lonjakan laba bersih yang signifikan. Proyeksi Kiwoom Sekuritas menempatkan kenaikan laba hingga 45% secara tahunan.

Di sisi pendapatan, rumah telekomunikasi itu diperkirakan membukukan penerimaan sekitar Rp150,8 triliun, naik 2,7% year on year. Angka laba bersih yang diperkirakan mencapai Rp25,8 triliun menjadi sorotan utama rekomendasi analis.

Riset Kiwoom menyebutkan sejumlah pendorong kinerja Telkom, antara lain monetisasi layanan data, kontribusi lebih besar dari IndiHome, ARPU seluler yang tetap solid, ekspansi layanan broadband, serta program efisiensi yang berjalan.

“Kombinasi faktor-faktor tersebut diperkirakan bakal mendorong pemulihan profitabilitas TLKM,” tulis Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas.

Selain faktor operasional, langkah korporasi seperti program pembelian kembali saham dan penataan portofolio lewat divestasi juga disebut mendukung penciptaan nilai bagi pemegang saham. Buyback senilai Rp4 triliun diperkirakan akan meningkatkan laba per saham, sementara divestasi AdMedika dinilai memperkuat fokus pada bisnis digital inti.

Target Harga dan Valuasi

Kiwoom merekomendasikan beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.630 per saham. Target ini dihitung menggunakan pendekatan valuasi gabungan, yakni kombinasi metode EV/EBITDA dan discounted cash flow (DCF), serta mempertimbangkan prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Angka target tersebut mencerminkan estimasi forward P/E sebesar 13,8 kali, EV/EBITDA 4,4 kali, dan PBV 2,2 kali. Di pasar saat ini, saham TLKM diperdagangkan pada estimasi P/E sekitar 11,1 kali dan PBV 1,74 kali.

Risiko yang Diidentifikasi

Riset juga menyorot sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja Telkom, termasuk tekanan pada ARPU, persaingan industri yang meningkat, kebutuhan belanja modal yang tinggi, perubahan teknologi yang cepat, serta potensi regulasi dan intervensi pemerintah.