— Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meminta kepastian terkait skema insentif kendaraan listrik (EV) yang terus mengalami penundaan. Kejelasan dianggap penting agar industri dan konsumen tidak menunda keputusan pembelian yang dapat menekan kinerja industri otomotif nasional.

Kajian akhir tentang insentif telah diserahkan Kemenperin kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sementara koordinasi lanjutan dilakukan dengan Kementerian Keuangan terkait jumlah unit yang akan disubsidi.

Penundaan Jadwal Pelaksanaan

Awalnya insentif dijadwalkan mulai berlaku pada Juni 2026, kemudian digeser ke Juli karena persiapan belum sempurna. Terakhir, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan realisasinya kemungkinan baru dapat dilaksanakan pada Agustus.

Imbauan ke Pemangku Kebijakan

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan bahwa industri dan konsumen masih menunggu kepastian mengenai skema insentif yang disiapkan pemerintah.

“Terkait dengan itu, kami meminta agar industri dan konsumen produk otomotif segera diberi kepastian,”

Febri menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan berpotensi membuat masyarakat menunda pembelian sehingga berdampak pada penjualan dan kinerja industri.

“Jadi kami mohon agar segera pengambil kebijakan di kementerian/lembaga lain agar segera memberikan kepastian terkait dengan insentif tersebut,”

Upaya Menjaga Momentum Penjualan

Untuk menjaga momentum penjualan pada semester II-2026, Kemenperin terus berkolaborasi dengan asosiasi industri dalam memperkuat pemasaran produk manufaktur nasional.

Sebelumnya, Menteri Keuangan menyebut pemerintah menargetkan insentif untuk masing-masing 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit sepeda motor listrik tahun ini. Untuk sepeda motor listrik, besaran insentif diperkirakan mencapai Rp 5 juta per unit, namun nilai dan skema final masih menunggu pembahasan antar kementerian dan lembaga sebelum diumumkan resmi.

Pemberian insentif dimaksudkan untuk menekan impor bahan bakar minyak sekaligus mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan, termasuk merespons proyeksi harga minyak dunia yang diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.