— Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi US$439,8 miliar pada April 2026, naik dari posisi US$433,4 miliar pada Maret 2026. Dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, ULN tumbuh sebesar 1,9%.

BI menyatakan kenaikan ULN didorong oleh pertumbuhan ULN sektor publik, sementara ULN sektor swasta masih mengalami kontraksi.

Rasio ULN Terhadap PDB Dan Komposisi Jangka Panjang

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat stabil pada 29,6% pada April 2026. Komposisi ULN didominasi oleh utang jangka panjang yang mencapai 84,5% dari total ULN.

“Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi.

Detail ULN Pemerintah

Posisi ULN pemerintah pada April 2026 tercatat sebesar US$216,4 miliar, atau tumbuh 3,7% secara tahunan. BI menjelaskan perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan posisi pinjaman luar negeri yang melambat.

BI juga mencatat aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) tetap mencatatkan net inflow, yang menurut pihaknya mencerminkan terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Sebagai bagian dari instrumen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN. Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22% dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,5%); jasa pendidikan (16,2%); konstruksi (11,5%); serta transportasi dan pergudangan (8,5%).

BI menegaskan posisi ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah.

ULN Swasta Kontraksi

ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar US$193,2 miliar, atau mengalami kontraksi tahunan sebesar 0,7%. Kontraksi ini terutama disebabkan oleh penurunan ULN pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations), yang menunjukkan kontraksi 5% secara tahunan.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, yang bersama-sama memiliki pangsa 79,6% dari total ULN swasta.

BI menambahkan bahwa ULN swasta juga mayoritas berupa utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 75,8% terhadap total ULN swasta.