Skybee — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada perdagangan Selasa (16/6/2026), menutup sesi dengan penurunan meski sehari sebelumnya sempat mengalami penguatan signifikan.
Berdasarkan data di pasar spot exchange, rupiah tergelincir 16 poin atau 0,09% ke level Rp 17.725 per dolar AS. Sebelumnya, pada Senin (15/6/2026) rupiah sempat menguat 151 poin dan ditutup di level Rp 17.708 per dolar AS.
Direktur PT Trijaya Pratama Futures Ibrahim Assuaibi menyatakan pergerakan pasar global dipengaruhi perkembangan positif hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
“Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global dan menekan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,”
Ibrahim mencatat kabar perdamaian ini turut menekan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, sementara indeks saham global bergerak menguat atas ekspektasi biaya energi yang lebih rendah dapat menurunkan tekanan inflasi.
Namun, menurut Ibrahim, investor masih menunggu detail implementasi perjanjian karena Washington dan Teheran mengatakan gencatan senjata permanen masih harus dinegosiasikan lebih lanjut.
Perhatian Terhadap Kebijakan Bank Sentral
Sentimen global juga dipengaruhi oleh keputusan bank sentral besar. Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneter.
Sementara itu, Bank Sentral Australia mempertahankan suku bunga di level 4,35% setelah sebelumnya menaikkannya tiga kali berturut-turut. Pelaku pasar kini menantikan kebijakan moneter The Fed dan Bank of England yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.
Ibrahim menambahkan data inflasi yang masih relatif tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini mulai berkurang. Para investor juga bakal mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk arah suku bunga AS selanjutnya.
Ancaman Tarif AS Bayangi RI
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut sentimen negatif datang dari memanasnya isu perang dagang setelah pemerintah AS berencana menerapkan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk Indonesia.
Menurut Ibrahim, kebijakan itu berpotensi menekan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar AS serta memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.
Tarif tambahan dijadwalkan diberlakukan secara bertahap mulai 24 Juli 2026 melalui skema Pasal 301 Trade Act 1974. Sebelumnya, pemerintah AS juga telah mengenakan forced labor tariff sebesar 10% terhadap Indonesia dan lima negara lain.
Pemerintah memperkirakan total tarif terhadap produk Indonesia dapat meningkat hingga 18% setelah investigasi terkait kelebihan kapasitas produksi selesai dilakukan. Saat ini, ekspor Indonesia ke AS dikenakan tarif global 10% berdasarkan Pasal 122 Trade Act yang berlaku sejak Februari 2026.
Ibrahim menyoroti posisi AS sebagai pasar ekspor nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia. Pada Januari–Juni 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$ 14,79 miliar atau sekitar 11,52% dari total ekspor nonmigas nasional, dengan produk utama berupa mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian jadi, serta berbagai aksesori.
Untuk perdagangan Rabu (17/6/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif. “Namun, rupiah berpeluang ditutup menguat pada kisaran Rp 17.690 hingga Rp 17.728 per dolar AS,” tutup Ibrahim.
Ikuti Skybee
