— Harga emas yang turun belakangan ini dianggap sebagai peluang akumulasi oleh sejumlah analis, tetapi investor diminta tidak langsung memborong. Pada saat tulisan ini disusun, emas tercatat menguat 0,23% ke level US$ 1.346,95 per ons troi.

Kepala Strategi Pasar MarketGauge, Michele Schneider, menilai pelemahan baru-baru ini berpotensi menjadi kesempatan beli jangka panjang. Namun, dia menekankan pentingnya menunggu konfirmasi arah pasar sebelum masuk secara agresif.

“Daripada mencoba menebak titik terendah harga, lebih baik menunggu konfirmasi terlebih dahulu dan mulai membeli secara bertahap,” kata Schneider.

Konfirmasi Teknis Sebelum Masuk

Menurut Schneider, aksi jual pada 11 Juni lalu mungkin merupakan titik balik bagi pasar logam mulia, tetapi belum ada sinyal teknikal yang cukup kuat untuk memastikan bahwa harga emas telah mencapai dasar.

Konfirmasi yang dimaksud, ujar dia, terlihat jika harga emas mampu melanjutkan penguatan setelah rebound awal atau menutup di atas level tertinggi hari sebelumnya dengan volume transaksi yang kuat. Kondisi tersebut dianggap sebagai tanda adanya minat beli baru, bukan sekadar penutupan posisi jual.

Perak Sebagai Indikator

Schneider juga menyoroti perak sebagai indikator penting bagi arah pasar logam mulia. Secara teknikal, perak dinilai relatif lebih kuat dibanding emas karena masih mampu bertahan di atas moving average 50 minggu.

Selain faktor teknikal, perak memiliki prospek permintaan yang didorong oleh pemakaian industri, termasuk pada teknologi kecerdasan buatan, energi surya, dan berbagai aplikasi elektronik.

“Jika perak kembali mengungguli emas, hal tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya tekanan inflasi sekaligus mengindikasikan pulihnya permintaan industri,” kata Schneider.

Prospek Jangka Panjang

Meski mengimbau kehati-hatian dalam jangka pendek, Schneider tetap optimistis terhadap prospek emas dan perak dalam jangka panjang. Menurutnya, sejumlah faktor fundamental mendukung kenaikan harga logam mulia, antara lain ketidakpastian geopolitik, tingginya utang pemerintah, baiknya permintaan bank sentral, dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya hilang.

Schneider menyebut peningkatan pembelian emas oleh China sebagai salah satu faktor pendukung; pada Mei 2026, catatan cadangan emas resmi negara tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibanding periode sebelumnya.

Dia menambahkan bahwa investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan dan persaingan untuk memperoleh sumber daya strategis juga berpotensi mendorong tekanan inflasi dalam jangka panjang.

“Semua itu berarti pengeluaran yang lebih besar. Dari sisi fundamental, emas masih memiliki alasan kuat untuk tetap diminati investor,” ujar Schneider.

Sebagai langkah praktis, dia merekomendasikan agar investor menunggu konfirmasi tren, melakukan pembelian secara bertahap, dan menambah posisi saat harga kembali bergerak di atas level-level teknikal penting.